Saya sebenarnya bukan seorang yang IT addicted, jadi gadget saya juga tidak banyak. Saya membeli hanya berdasarkan kebutuhan. Sebelum saya memutuskan untuk membeli modem 3.5G ini, saya menggunakan modem CDMA ZTE MG880U. Saya cukup puas mengkolaborasikannya dengan kartu starone, yang setiap bulannya saya daftarkan program ‘ngorbit’ yang secara otomatis akan memotong pulsa saya sebesar Rp. 25.000,- dengan bonus gratis bicara ke sesama starone sebulan penuh dan biaya internet (volume based) hanya Rp.3000/jam, hemat sekitar 33,33% jika tidak menggunakan layanan ‘ngorbit’.
Faktor mobilitas yang membuat saya mempertimbangkan untuk mengistirahatkan ZTE MG880U, dan merekrut Prolink PHS100 ini dengan tebusan sebesar Rp. 850.000,- pada bulan Mei 2009.Pertimbangan saya memilih Prolink PHS100 ini sejujurnya murni karena desakan si pedagang di Bandung Electronic Center. Entah karena si produk yang mereka kampanyekan itu memang bagus, atau mereka mendapat fee atas penjualan produk tersebut. Entahlah ^^, Secara desain pun sebenarnya modem-modem merk lain sudah banyak yang cantik, seperti misalnya Huawei E220, Huawei C160, ZTE MF622 yang rata-rata berwarna putih. Namun tetap saja Prolink PHS100 yang paling imut ukurannya diantara mereka. Instalasinya juga mudah. Ini lagi-lagi saya katakan sepihak tanpa sempat membandingkan dengan modem lain yang sejenis.

Prolink PHS100
Saya memilih IM2 Broom (lagi-lagi indosat) untuk dikolaborasikan, dengan alasan kemudahan yang ditawarkan. IM2 Broom menyediakan layanan prabayar unlimited, berbeda dengan telkomsel Flash yang mempersyaratkan pelanggannya mendaftarkan kartunya menjadi kartu pascabayar Halo terlebih dahulu sebelum menikmati fasilitas unlimited dari telkomsel. Namun karena saya belum terdaftar menjadi komunitas ‘wong sabar’ maka hanya dalam jangka waktu satu bulan saya segera memecat sejoli itu karena seringnya koneksi yang putus-putus tanpa sebab. Lagi-lagi provider telekomunikasi di Indonesia belum terlalu ikhlas dalam memberikan tarif murah berinternet. Mungkinkah ini disengaja? Atau traffic pengguna IM2 Broom yang terlalu tinggi? Entahlah.
Tak hilang kesempatan hanya karena satu halangan,saya memutuskan untuk menggunakan koneksi wired, sementara jika di luar ruangan saya cukup menggunakan ponsel saya untuk mengakses email, facebook, atau google maps. Fasilitas WiFi di berbagai tempat nongkrong bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, bahkan mungkin koneksinya jauh lebih cepat daripada IM2 broom.
Namun, bagi anda yang mencintai kepraktisan, modem HSDPA ini memang harus jadi ‘must have item anda’.
Komentar Terakhir